Senin, 13 Februari 2012

Alfalfa "bapak dari semua tumbuhan"


Sejak dikembangkan di Jawa Tengah per Maret 2005, tanaman alfalfa yang kini mulai banyak dibudidayakan di lahan nonproduktif ternyata telah menebus pasar ekspor ke negara Taiwan.
Sayangnya, petani baru bisa memenuhi 20 persen dari permintaan ekspor alfalfa (Medicago sativa L) yang mencapai 5.000 ton per tahun. Peluang besar untuk mendapatkan keuntungan agak terkendala akibat lambatnya respons petani terhadap keandalan tanaman di bisnis agroindustri.
Ketua Umum Kelompok Tani Alfalfa Jawa Tengah, Sutardjo, Senin (21/8) mengatakan, permintaan rumput alfalfa terus meningkat. Tanaman rumput ini memiliki kandungan yang bagus untuk tanaman kesehatan.

Alfalfa memiliki kandungan 60 nutrisi, sangat diminati konsumen luar negeri. Tingginya kandungan nutrisi menyebabkan tanaman ini disebut “bapak dari semua tumbuhan”.

“Sejak diperkenalkan ke petani, kini sudah terdapat lahan 200 hektar. Jumlah ini masih terbatas dan lahan tanaman yang serumpun dengan kacang-kacangan ini paling banyak di Boyolali, Jepara, Tegal, Semarang, dan sebagian di Cirebon. Hasilnya sementara per hektar baru bisa panen empat ton,” kata Sutardjo.
Dia mengemukakan, tanaman ini dapat dipanen setelah usia 21 hari. Setahun dapat dipanen 15 kali. Budidaya ini memang memerlukan padat karya, tiap satu hektar dibutuhkan 60 orang pekerja. Hasilnya pun memuaskan karena jika panen normal, tiap hektar bisa memberikan keuntungan Rp 2 juta.
Tanaman alfalfa yang dimanfaatkan tangkai dan daunnya. Tangkai dan daunnya dikeringkan kemudian siap diekspor. Kendala petani saat ini, proses pengolahannya masih belum optimal. Sebagian besar petani masih belum menguasai proses pascapanen sehingga proses pengeringan sementara ini bekerja sama dengan pihak pabrikan. Petani tinggal menyetor tangkai dan daun basah, kemudian pihak pabrikan mengolahnya. Pasaran ekspor yang sudah ditembus ke Taiwan, diperoleh petani melalui program kerja sama pula dengan pembeli di Taiwan.
Sutardjo menyatakan, untuk mengembangkan agro alfalfa ini memang tidak memerlukan lahan luas. Untuk petani, dengan lahan nonproduktif yang terdapat di hampir semua daerah, intensifikasi budidaya tanaman ini saja akan bisa menghasilkan panen yang berlipat ganda. Nilai alfalfa sangat tinggi. Diharapkan pengembangan tanaman ini dapat mendongkrak nilai ekspor nasional alfalfa yang mencapai 84 juta dollar AS. (WHO)
Sumber :
Kompas – Selasa, 22 Agustus 2006

4 komentar:

  1. kalo diboyolali itu dikec mana pak.ada info yg bs dihubungi kalo mau tanam
    sukron.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boyoladi di Kecamnatan Selo mas, untuk bibit kami juga menyediakan

      Hapus
  2. mas kalau beli bibit alfafa, diantar bisa nggak? saya di solo.,

    BalasHapus
  3. yg di jepara disebelah mana pak? Tolong dishare alamatnya. Barakallah

    BalasHapus